Kehidupan Seni Budaya di Bali
Bali nampaknya merupakan salah satu yang daerah dimana kegiatan seni dan budayanya sangat semarak. Setiap hari dengan mudah kita dapat menjumpai aktivitas berkesenian yang sedang berlangsung. Mulai dari seni pertunjukan hingga seni rupa.
Dari seni tradisional hingga kontemporer.Galleri seni rupa tersebar di seantero Bali. Sementara panggung pertunjukan untuk pentas para seniman juga tak kurang banyaknya. Setiap desa di Bali memiliki bangunan ataupun ruang terbuka yang dapat difungsikan sebagai panggung pertunjukan.
Dari seni tradisional hingga kontemporer.Galleri seni rupa tersebar di seantero Bali. Sementara panggung pertunjukan untuk pentas para seniman juga tak kurang banyaknya. Setiap desa di Bali memiliki bangunan ataupun ruang terbuka yang dapat difungsikan sebagai panggung pertunjukan.
Kesenian menjadi sesuatu yang menyatu dengan kehidupan keseharian masyarakat. Bahkan sebagian karya seni merupakan bagian dari persembahan kepada Tuhan dalam suatu kegiatan keagamaan masyarakat Hindu Bali. Beberapa jenis tari merupakan tari sakral yang dipentaskan hanya pada waktu tertentu sebagai bagian dari satu ritual.
Selain itu, yang terpenting adalah dukungan masyarakat. Sehebat apapun sebuah kesenian di suatu daerah, tidak akan bisa hidup dan berkembang jika masyarakat luas tidak merasa memiliki warisan budayanya itu. Sikap acuh terhadap warisan budaya yang dimiliki mempercepat hilangnya eksistensi seni dan budaya di suatu daerah. Banyak hal yang menyebabkan masyarakat memiliki sikap kurang peduli terhadap keberadaan kebudayaannya ini. Salah satunya adalah kehidupan sosial masyarakat kita yang telah berubah.
Pertumbuhan penduduk menyebabkan struktur kehidupan mulai berubah. Karena Jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan sebuah desa berkembang menjadi kota kecil. Sementara yang sebelumnya hanya sebuah kota kecil berkembang menjadi kota-kota yang lebih besar lagi, demikian seterusnya. Kebijakan yang diambil pemerintah untuk menjadi negara industri dan meninggalkan bidang pertanian juga mempercepat perubahan wajah dari pedesaan menjadi perkotaan dengan banyaknya bangungan-bangunan yang dipergunakan untuk industri beserta dengan segala fasilitas penunjangnya. Tak pelak hal ini juga mempengaruhi kehidupan sosial para penduduknya. Dari yang semula bersifat agraris pedesaan menjadi industrial perkotaan.
Kehidupan agraris tentu berbeda dengan kehidupan industri. Hal ini mempengaruhi pola pikir alam bawah sadar masyarakat. Dalam kehidupan agraris, masyarakat sangat menyatu dengan alam. Siklus kehidupan masyarakat selaras dengan siklus alam karena terkait dengan pola tanam sebagai pekerjaan utama mereka. Dalam kehidupan yang besifat agraris, ambisi manusia sedikit banyaknya juga bergantung dengan keadaan alam. Manusia menyadari keberadaannya merupakan bagian dari keadaan alam dimana dia tinggal.
Sementara pola kehidupan masyarakat dalam dunia industri yang tidak bergantung sepenuhnya kepada alam sebagaimana kehidupan yang masih bersifat agraris, membuat manusia bisa merencanakan masa depannya tanpa terlalu banyak bergantung kepada alam. Kehidupan perkotaan yang cenderung bersifat industrial memiliki karakteristik yang berbeda dengan kehidupan pesesaan yang masih bersifat agraris. Dalam kehidupan perkotaan, manusia semakin dituntut untuk hidup lebih praktis dan pragmatis guna memenuhi kebutuhan keluarga. Karena tuntutan ini, secara perlahan alam bawah sadar manusia perkotaan membuatnya berfikir taktis dan ekonomis. Hal ini berbeda dengan alam bawah sadar manusia pedesaan yang bersifat agraris yang lebih mengutamakan kehidupan yang harmonis dengan alam.
Sebagaimana telah banyak dibahas oleh para ahli sejarah, awal lahirnya kebudayaan dimulai pada masa manusia telah berhasil menemukan teknik bercocok tanam dari sebelumnya hanya sebagai pengumpul makanan. Karena pada masa bercocok tanam, manusia lebih banyak memiliki waktu berkumpul bersama keluarga dan kelompoknya. Sehingga rasa artistik dalam diri manusia berkembang. Dalam masa yang kondusif ini, rasa artistik manusia berwujud dengan menghasilkan karya seni dan unsur-unsur budaya yang lainnya.
Tak mengherankan jika seni dan budaya tumbuh berkembang dengan baik di Bali karena kondisi sosio psikologis masyarakatnya masih bersifat agraris. Namun demikian bukan berarti dalam masyarakat yang sudah tidak agraris, seni dan budaya tidak bisa berkembang. Faktor lain yang tak kalah penting adalah rasa memiliki masyarakat sehingga masyarakat setempat mendukung keberadaan warisan seni dan budaya yang mereka miliki. Rasa memiliki lahir dari terpenuhinya unsur jasmani dan rohani baik dari sisi pelaku maupun penikmat karya seni. Unsur jasmani bersifat fungsional sementara unsur rohani terkait dengan unsur yang memenuhi rasa aman, tentram, menghibur dan sebagainya. Kedua unsur ini harus ada dalam kesenian sehingga dengan rasa memiliki masyarakat pun akan mendukung keberadaan budaya yang hidup di tengah mereka.
Pelaku seni harus juga mendapat kepuasan selain dari sisi rohani juga dari sisi jasmani, misalnya penghasilan yang cukup untuk menafkahi kehidupan keluarganya. Sementara masyarakat sebagai penikmat juga mendapat kepuasan batin ketika melihat pertunjukan seni. Jika dua hal ini terpenuhi, maka dapat dipastikan kehidupan kesenian akan tetap terus berlangsung.
Kehidupan kesenian di Bali dapat tumbuh berkembang dengan sangat baik dikarenakan beberapa faktor selain tersebut diatas. Pengetahuan bahwa kesenian merupakan bagian dari persembahan manusia kepada Sang Pencipta merupakan salah satu faktor yang membuat masyarakat Bali melakoni laku berkesenian dengan sukacita dan tidak melulu mengharapkan imbalan materi dalam setiap pertunjukan. Bagi yang pandai mengukir, dengan senang hati mempersembahkan dirinya untuk berkarya membuat relief di pura, sang pelukis dengan sukacita membuat gambar-gambar dari cerita Mahabrata ataupun legenda Bali guna menghias bidang-bidang kosong sehingga nampak artistik. Bagi yang pandai menari, mempersembahkan kebolehannya mengolah gerak tubuh dalam sebuah upacara di pura merupakan kebahagiaan tersendiri. Sekelompok laki-laki disudut lain memainkan gamelan dengan gembira. Sementara penduduk lainnya dengan antusias akan menyaksikan pertunjukan ini, sambil berharap dalam hati agar kelak anak mereka dapat seperti para pelaku seni ini yaitu mempersembahkan keahlian mereka untuk sang Pencipta.
Selain digerakkan oleh daya religi tersebut diatas, banyaknya wisatawan berkunjung ke Bali membawa berkah tersendiri. Karya-karya seni diapresiasi oleh para wisatawan sehingga memberi bahan bakar bagi para pelaku seni untuk terus berkarya. Seni ukir dan lukisan Bali telah dikenal di seluruh dunia. Dikoleksi oleh para pecinta seni. Para seniman panggung tak kekurangan tempat untuk berpentas menunjukkan kebolehannya menari. Walau materi bukan merupakan tujuan utama seorang seniman sejati namun sedikit banyak hal ini turut menambah spirit dalam berkarya.
Namun banyaknya wisatawan yang datang ke Bali tentu juga menjadi ujian bagi ketahanan budaya lokal. Tidak hanya wisatawan asing yang datang langsung, namun serbuan budaya luar yang masuk melalui teknologi juga tak bisa dipandang remeh. Interaksi antar manusia, baik antara orang Bali dengan orang Indonesia lainnya yang berbeda budaya maupun dengan orang dari berbagai bangsa dan negara yang jauh lebih berbeda lagi secara kultural dan cara berpikir, tentu akan mempengaruhi pola pikir masyarakat. Gaya hidup dan pola pikir yang berubah tentu saja akan berdampak langsung terhadap tingkah laku masyarakat dalam memperlakukan budayanya sendiri.
Sejak ratusan tahun yang lalu, orang Bali telah memiliki pengalaman berinteraksi dengan dunia luar, namun sampai sejauh ini, alih alih tersingkir, budaya Bali justeru mampu bertahan, bahkan unsur budaya luar melebur, berasimilasi dan memperkaya budaya Bali. Namun tantangan menghadapi serbuan budaya luar pada masa sekarang tentu berbeda dibanding dahulu. Tantangan pada masa sekarang jauh lebih kompleks karena masyarakat masa kini tidak hanya berhadapan dengan budaya luar yang “nyata” bentuknya namun juga sekaligus menghadapi tantangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kesibukan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan ekonominya secara perlahan merubah pola pikir masyarakat dalam memandang sesuatu. Kecenderungan untuk berpikir secara pragmatis pada sebagian masyarakatpun tak terhindarkan. Maka tantangan terbesar eksistensi seni budaya yang berbasis tradisional saat ini adalah kesibukan masyarakat itu sendiri dalam memenuhi kebutuhan ekonominya.
Kebudayaan lahir pada masa manusia menemukan metode bercocok tanam dimana manusia memiliki cukup waktu luang dalam menunggu masa panen sehingga rasa artistik dalam diri manusia berkembang dan terejawantahkan menjadi karya seni dan kekayaan tradisi lainnya. Kebudayaan tidak lahir dalam masa manusia menjadi pengumpul makanan dan masa berburu karena manusia disibukkan oleh kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pada masa sekarang, kecenderungan manusia kembali kepada fase “berburu dan menjadi pengumpul makanan” semakin sulit dihindari.
Budaya Bali berkembang dan mampu bertahan karena sebagian besar masyarakatnya masih hidup dalam dunia agraris, namun perkembangan industri pariwisata yang tidak terkontrol akan menggerus eksistensi seni dan budaya Bali. Apakah masyarakat akan mampu bertahan atau justeru larut dan meninggalkan akar tradisi yang telah diwariskan ratusan tahun yang lalu? Semoga Bali akan mampu terus bertahan.
Komentar
Posting Komentar